Investor Global Mulai Incar Startup Mikrobioma, Indonesia Dilirik

Photo of author

By admin


Investor global disebut mulai melirik startup mikrobioma, termasuk suplemen makanan setelah euforia dengan sektor kripto, mobil otomatis, dan metaverse awal tahun ini. Perusahaan rintisan sejenis di Indonesia pun dilirik.

Dalam pengertian sederhana, mikrobioma adalah ekosistem kompleks yang terdiri dari mikroorganisme seperti bakteri, virus hingga jamur yang hidup di permukaan dan dalam tubuh semua makhluk hidup, termasuk manusia.

Mitra pengelola Sequoia Capital, salah satu modal ventura terbesar di dunia, Roelof Botha menyampaikan bahwa perusahaan mulai berinvestasi di startup mikrobioma.

“Ada kebangkitan (minat) masyarakat tentang bioma kompleks usus manusia,” ujar dia dikutip dari CNBC Internasional, akhir pekan lalu (23/12).

“Secara tidak sengaja, kita memasuki era di mana kita memiliki sikap bermusuhan antara manusia dan bagian dari alam lainnya,” katanya. “Kita menggunakan antibiotik dan sabun secara berlebihan. Dan sekarang kita akan kembali ke keseimbangan.”

Botha terkenal di industri teknologi sejak investor masif menyuntik modal perusahaan media sosial seperti Instagram dan YouTube. Kini dia tertarik dengan kesehatan usus.

Sequoia menyuntik banyak perusahaan. Sebagian bahkan menjadi unicorn dan decacorn.

Tahun lalu, modal ventura itu menginvestasikan US$ 488 juta di startup probiotik dan suplemen makanan di seluruh dunia. Nilainya lima kali lipat dari yang mereka investasikan lima tahun lalu, menurut firma riset yang melacak investasi startup PitchBook.

Tiga di antara startup dan perusahaan di bidang mikrobioma dan suplemen makanan yang disuntik oleh Sequoia yakni:

  • Pengujian genetika 23andMe
  • Penjual suplemen probiotik yang berbasis di San Francisco, Pendulum
  • Raksasa farmasi dan makanan, bagian dari elit Silicon Valley yang tidak disebutkan namanya

Sedangkan modal ventura yang mulai merambah sektor mikrobioma, termasuk suplemen makanan di antaranya:

  1. Sequoia
  2. Khosla Ventures berinvestasi di Pendulum
  3. Y Combinator memiliki saham di startup yang meneliti pengobatan kanker potensial yang melibatkan mikroba usus Persephone Biosciences dan menyuntik startup uBiome
  4. Andreessen Horowitz menyuntik startup uBiome yang memberikan insight atau wawasan tentang mikrobioma berdasarkan tes kotoran
  5. Social Capital berinvestasi di startup yang menjual minuman probiotik sebagai obat mabuk, Zbiotics

“Lima tahun lalu, investor startup kesehatan memiliki latar belakang kesehatan. Begitu juga makanan,” kata Co-founder Brightseed, startup yang mengembangkan produk kesehatan usus, Sofia Elizondo.

Kini, “banyak minat investor persilangan. Banyak modal ventura berbagi tesis bahwa kesehatan proaktif tingkat molekuler yang tepat adalah ‘jalan’ masa depan,” tambah dia.

Alasan Startup Mikrobioma Diminati

Modal ventura tertarik pada potensi ‘nutraceutical’. Bisnis probiotik dan suplemen dinilai memiliki setidaknya dua keunggulan bagi investor, yakni:

  1. Pendapatan berulang yang stabil: berasal dari orang yang meminum pil setiap hari atau produsen makanan yang menggunakannya sebagai bahan tambahan untuk mengontrol insulin, memperbaiki pencernaan, atau mencoba menurunkan berat badan
  2. Regulasi tidak ketat: Bahan-bahan yang digunakan secara umum harus dianggap aman dan produsen tidak dapat memasarkan suplemen yang lebih efektif daripada yang ditunjukkan oleh penelitian, tetapi regulasinya tidak seketat obat-obatan dan makanan

Mitra Sequoia Capital Botha percaya, penelitian genetika memiliki potensi yang sama dengan microchip generasi satu yang lalu, ketika kekuatan microchip diharapkan berlipat ganda setiap dua tahun berdasarkan prinsip yang disebut Hukum Moore.

“Pengurutan DNA telah berkembang lebih cepat daripada hukum Moore,” katanya. Ini yang menjadikan sektor mikrobioma target yang bagus untuk Silicon Valley. “Ini tentang memahami biologi sebagai ilmu informasi.”

Asisten profesor ilmu gizi di Texas Christian University Elisa Marroquín mengatakan, ilmu seputar suplemen gelombang baru masih tahap anyar. Namun menurutnya, startup mulai mengembangkan mikrobioma.

“Kami masih sangat awal dalam memahami spesies bakteri ini,” kata Marroquín yang ikut menulis ulasan sains tahun ini. Menurutnya, suplemen probiotik ke depan menjanjikan dibandingkan dengan suplemen yang tersedia selama beberapa dekade.

“Saya yakin itu akan memiliki efek yang lebih kuat pada kesehatan kita daripada probiotik yang ada di pasaran saat ini,” katanya.

Tantangan Startup Mikrobioma

Startup mikrobioma menghadapi tantangan dalam mengubah persepsi bahwa industri mereka tidak ilmiah.

Jaksa federal di Amerika Serikat (AS) mengatakan pada tahun lalu, bahwa tes startup uBiome tidak valid secara ilmiah. Pendiri uBiome Zachary Apte dan Jessica Richman juga dituduh menipu.

Produk uBiome

Produk uBiome (nutraingredients-usa)

Co-founder sekaligus CEO Pendulum Colleen Cutcliffe mengatakan, probiotik jelas merupakan Voodoo atau agama di Afrika Barat, yang sering disebut sebagai ilmu sihir.

Cutcliffe memiliki gelar doktor dalam biokimia dari Universitas Johns Hopkins. Dua rekan pendiri Pendulum juga memiliki gelar doktor.

“Faktanya, dalam delapan tahun pertama perusahaan kami berdiri, saya tidak mengizinkan siapa pun menggunakan kata ‘p’ untuk mendiskusikan produk kami,” katanya, mengacu pada probiotik. “Saya berkata, ‘ini adalah intervensi mikrobiotik’.”

Pendulum menjual beberapa produk, termasuk suplemen dengan akkermansia muciniphila, bakteri usus yang dipasarkan sebagai ‘probiotik generasi berikutnya’. Produknya dipakai untuk diet.

“Bakteri tersebut sulit dibuat hidup-hidup karena dapat mati jika bersentuhan dengan oksigen,” kata Cutcliffe. “Jadi Pendulum membangun proses eksklusif yang mencegah masuknya oksigen.”

Namun, Pendulum masih harus mempelajari puluhan ribu strain bakteri usus. Meskipun nilai pasar industri probiotik global diprediksi US$ 60 miliar.

Startup Mikrobioma di Indonesia

Startup yang memproduksi vitamin Youvit meraih pendanaan seri B US$ 6 juta atau sekitar Rp 93,6 miliar pada akhir Oktober. Dana ini berasal dari Unilever dan konglomerat asal India Wipro Consumer Care & Lighting.

Wipro Consumer Care & Lighting masuk melalui unit bisnis di bidang modal ventura. Begitu juga dengan Unilever melalui Unilever Ventures.

Youvit

Youvit (Instagram/Youvit)

Partner di Unilever Ventures Pawan Chaturvedi menilai, format produk Youvit modern dan inovatif. Selain itu, menerapkan pendekatan distribusi omnichannel.

“Youvit siap mendisrupsi pasar vitamin dan suplemen yang besar di Asia Tenggara. Kami berharap dapat bermitra dengan Wouter dan Maarten (pendiri Youvit lainnya) saat mereka membangun kategori kesehatan di pasar yang menarik ini,” kata Chaturvedi.

Pada keterangan pers berbeda, Managing Partner Wipro Consumer Care Ventures Sumit Keshan mengatakan bahwa Youvit menawarkan bisnis yang menjanjikan di segmen nutraceutical dan wellness. Sebab, startup ini menyediakan vitamin berbentuk gummy bentuk gummy untuk anak-anak dan orang dewasa.

Investasinya kepada Youvit juga menjadi yang pertama di Asia Tenggara. “Youvit mendapatkan daya tarik yang kuat dari konsumen anak-anak maupun orang dewasa,” kata Keshan dikutip dari Business Standard.

Pada 2020, East Ventures mengumumkan pendanaan tahap awal di startup di bidang teknologi genomika Nusantics. Perusahaan rintisan ini mengklaim sebagai startup lokal pertama yang dapat menganalisis profil mikrobioma.

alat uji covid-19 nusantics

alat uji covid-19 nusantics (east ventures)

East Ventures juga menyuntik startup Nalagenetics. Perusahaan rintisan ini memuat produk bioteknologi, dengan menganalisis data genetik dan menghasilkan produk berupa personalisasi obat, nutrisi dan skrining. 

Nalagenetics

Nalagenetics (Nalagenetics)

Co-Founder sekaligus Managing Partner di Ideosource dan Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani mengatakan, startup mikrobioma mulai ada di Indonesia namun belum banyak.

“Sudah mulai bermunculan di Indonesia” kata Edward kepada Katadata.co.id, Rabu (28/12). Ia mencontohkan Asaren dan Regene.

Edward menjelaskan, investasi di sektor itu memiliki periode maturity yang lebih lama. Oleh karena itu, tidak semua modal ventura melirik atau mampu berinvestasi di sektor ini.

Namun, “peluang di sektor ini memang sangat besar bagi yang berhasil,” katanya.



Sumber Berita

Leave a Comment